Tampilkan postingan dengan label aircraft. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aircraft. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 September 2007

Ejection Seat

Sudah menjadi standar keamanan apabila sebuah pesawat tempur dilengkapi dengan ejection seat atau kursi lontar. Kursi lontar ini digunakan untuk menyelamatkan sang pilot apabila pesawatnya sudah tidak bisa dikendalikan lantaran kerusakan teknis maupun hampir tersengat rudal pesawat musuh.
Kursi lontar ternyata juga diterapkan pada pengebom seperti B-52 Sratofortress. Hebatnya, seluruh awaknya dilengkapi piranti ini.
Kursi lontar sendiri diciptakan untuk menyelamatkan seorang penerbang yang sudah dianggap sebagai SDM mahal. Bayangkan, untuk menjadi seorang penerbang (khususnya) tempur, mereka harus lulus seleksi dari sekian banyak pendaftar. Setelah lulus, ia pun harus melalui proses pendidikan yang panjang dan lama serta diberi kepercayaan yang amat langka menerbangkan pesawat tempur yang
jumlahnya relatif terbatas.
Prosedur eject harus dilakukan dengan benar, jika tidak malah bisa meningkatkan resiko kecelakaan. Kursi lontar dilengkapi roket berkekuatan besar untuk melontarkan pilotnya keluar pesawat hanya dalam hitungan detik.
Beberapa merek kursi lontar yang
terkenal adalah Aces II dan Martin Baker dengan kelebihan masing-masing.
Pada A-4 Skyhawk terdapat jenis zero-zero ejection seat yang bisa digunakan pada ketinggian dan kecepatan nol. Kursi lontar ini dapat melempar kursi berikut pilotnya sejauh 53 meter. Begitu roket pendorong aktif dengan menarik kabel loreng kuning-hitam yang terletak di antara kedua kaki, dalam waktu 0.25 detik k
ursi akan terlontar.
Lain lagi dengan yang digunakan F-5E Tiger II. Dengan daya dorong 700 kg, kursi jenis ini justru tak boleh diaktifkan pada kecepatan kurang dari 500 knot. Begitu kuatnya hingga pilot bisa terdorong hingga 43 meter dengan p
engaruh gaya gravitasi mencapai 14G meski hanya berlangsung 0.19 detik.
‘Saya eject dalam keadaan siap. Malah sebelum terbang saya sempat memberikan briefing kepada para yunior tentang cara penggunaannya. Beberapa saat kemudian justru saya yang mengalaminya. Pesawat yang saya kemudikan (F-5) mengalami kerusakan mesin di ketinggian 3000 kaki (sekitar 1000m),’kenang Djoko Suy
anto.
Seperti dikisahkannya, ia telah berusaha menghidupkan kembali mesin yang bungkam itu, namun selalu gagal. Tiada pilihan lain, ketika pesawat telah menghujam 1000 kaki, kedua kaki yang semula ada pada pedal rudder segera ditarik dirapatkan ke kursi, badan disandarkan sempurna, dan ditariklah trigger kursi lontarnya. Ini adalah prosedur standar. Tiga detik berikutnya roket pendorong menyala, kanopi terlepas, dan tak sampai sedetik berikutnya Suyanto tersadar telah berada di luar pesawat.
J
ika pada F-16 terdapat kursi lontar Aces II yang bisa melontarkan pilot berikut kursinya dalam 0.25 detik dengan gaya 13G, Martin Baker hanya butuh 0.20 detik dengan gaya tarik 15G. Sepuluh penerbang TNI AU setidaknya pernah merasakan kerja Martin Baker, baik saat terbang maupun ketika masih dalam posisi di darat.

Angkasa

Kamis, 06 September 2007

Cockpit Airbags System

Boleh jadi, kali ini dunia penerbangan yang mencontek teknologi otomotif. Kalau sebelumnya sebaliknya, seperti penerapan prinsip aerodinamika dan penggunaan sasis mobil balap F1 dari bahan yang sama untuk rangka pesawat terbang. Maka kali ini, Pentagon bekerjasama dengan Federal Aviation Administration (FAA) tengah menguji coba keampuhan kantong udara (air bags) dalam menekan jumlah korban heli tempur AS seperti McDonnell Douglas AH-64 Apache, AH-1 Huey Cobra, dan Sikorsky S-70 Blackhawk.
Menurut survei yang dilakukan US Army Aeromedical Research Laboratory di Fort Rucker, Alabama, 128 personelnya terbunun dan 26 lainnya mengalami cacat seumur hidup gara-gara kecelakaan helicopter antara 1984-1992. Dalam lima dari enam kejadian, cedera disebabkan hantaman struktur pesawat ke tubuh kru. Cedera kepala paling menonjol diantaranya. Kembali menurut survei, stik kendali dituding sebagai penyebab paling dominant bagi keselamatan pilot. Namun tiap heli punya keunikan. Sebut saja Cobra. Teleskop pembidiknya (TSU) yang berada persis di depan gunner, justru ‘pembunuh’ bagi operatornya sendiri.
Karena itulah, berawal kepedulian terhadap nyawa prajuritnya, Pentagon mengadopsi teknologi kantong udara yang disebut Cockpit Airbags System (CABS). Diperkirakan oleh laboratorium medis AD AS, CABS sepertinya akan mampu menekan jumlah korban jiwa seperti yang ditunjukkan Simula Government Products, sebuah industri airbags yang kesohor, yang mampu menyelamatkan 10 nyawa selama 3 tahun.
Sama halnya dengan airbags mobil, CABS terdiri dari tiga bagian : depan, samping kiri, dan samping kanan. Bagian sisi disebut paling kritis. Pasalnya sudah jadi tipikal helicopter akan berguling setelah jatuh (vertical crash). Sekali lagi dicontohkan Cobra, airbags-nya akan ditaruh di bawah TSU. Kantong sampingnya akan disimpan di bawah permukaan, di sisi panel senjata.
Namun begitu, banyak perbedaan antara heli dan mobil yang tidak bisa dikompromikan. Baik sruktur, wilayah beroperasi, sistem, hingga pola jatuhnya. Sebagai pesawat tempur, heli sangat rentan terhadap hard landing, turbulensi, atau tembakan dari bawah. Karena itu, sensor heli mesti peka dan mampu dengan cepat mendeteksi tanda-tanda bencana. Untuk membuktikan keandalan CABS menekan jumlah korban dalam sebuah misi tempur, pihak militer memerintahkan 12 kali uji coba di simulator tempur Apache. Hasilnya sejauh ini cukup menggembirakan, karena tidak seorangpun penerbang selama tes mengalami kehilangan control.
Kesimpulan sementara, CABS mampu menyelamatkan pilot dengan menekan cedera berat di bagian kepala hingga 80% dan menurunkan standar cedera kepala (HIC) hingga 75%. Alhasil, pengujian masih akan terus berlangsung, hingga Pentagon bakal memutuskan 4000 heli yang dioperasikan AD AS harus menginstal CABS.

Angkasa no5 Februari 2003 thXIII

Predator, Teror Baru Untuk Teroris

RQ-1 Predator adalah salah satu pesawat tanpa awak AB AS yang bisa menembakan rudal penghancur sasaran. Namanya juga hasil buatan manusia, pasti punya kelemahan juga. Pada 3 November 2002 di Yaman, Predator membuat ulah. Rudal AGM-114 Hellfire yang dibawanya meluncur ke arah sebuah mobil yang berisi 6 orang. Padahal Hellfire dibuat untuk menghancurkan tank, dapat dibayangkan bagaimana kehancuran mobil tersebut. AS berkilah bahwa, pembunuhan itu bisa dibenarkan karena sasarannya adalah pejuang Al-Qaeda yang buron. Menerobos wilayah negara lain tanpa izin adalah sudah biasa bagi AS.
Bgaimana UCAV (unmanned combat aerial vehicle) sepanjang 9m dengan rentang sayap 16m ini bisa mengunci sasaran? Seperti diungkap pabrik pembuatnya, General Atomics-Aeronautical Systems Inc., sistem Predator terdiri atas tiga bagian penting. Satu, berupa wahana pesawatnya sendiri; dua, unit stasiun control darat (ground control) berikut ‘pilot khususnya’nya; tiga, sub-sistem satelit sebagai penebar data ke semua penjuru.
Kerja Predator sendiri mirip pesawat remote control. Bedanya, mesin pesawat serta avionik sudah dipercanggih,
serta unit pengontrolnya sudah sudah jauh diperbesar. Sedemikian komplit dan canggihnya, unit pengontrolnya harus dibawa dalam sebuah truk trailer. Pengendalinya dua orang, satu sebagai pilot virtual, sementara yang lain sebagai operator muatan. Artinya penembakan Hellfire adalah tanggung jawab orang kedua tadi.
Predator bisa terbang sampai 40 jam, dengan radius 400 mil laut, dan mencari sasaran dari ketinggian 25.000 kaki. Matanya yang tiga jenis-kamera video, penjejak radar, dan FLIR-amat jeli, sehingga banyak objek bergerak tak
menyangka dirinya dikuntit. Maka, jika data buronan sudah cocok, kehancuran tinggal hitungan detik.
Kendali terbang dipandu gelombang radio (UHF/VHF), sementara komunikasi data melalui jalur Ku-Band. Kualifikasinya adalah data wilayah lawan terbaru (real time). Semua itu akan dikirim kontinu ke prajurit garis depan maupun komandan lapangan lewat satelit komunikasi untuk keperluan takti tempur. Jangkauannya luas, sehingga para penentu kebijakan yang bermarkas di belahan bumi lain pun bisa ikut menikmatinya.
AS punya 60 unit yang dioperasionalkan Skuadron Intai ke-11 dan ke-15, sementara AU Italia punya 6 unit. Keandalannya sudah teruji, karena baik di Bosnia (1995) dan di Afghanistan, ia selalu sukses mencuri gambar. Kini, dengan Hellfire, ia memang penebar teror yang mengerikan.

Angkasa no3 Desember 2002 thXIII dengan pengeditan

Kamis, 23 Agustus 2007

Naval Flanker - Sukhoi Su-33(Su-27N)


Ini nih varian Flanker yang bikin aku gregetan, Naval Flanker. Sesuai namanya, jet tempur AL Rusia ini beroperasi dari kapal induk. Sayapnya dapat dilipat untuk menghemat tempat di kapal dengan luas permukaan sedikit lebih luas dari Flanker standard. Lihat, ada 12 gantungan senjata di sayapnya (sayang yang 2 ga keliatan). Ia punya sayap kecil (canard) di dekat air intake serta air brake di punggung yang cukup besar. Pipa bentuk L tepat di depan kokpit itu namanya probe; digunakan saat air-refueling. Kaki depannya dibuat lebih kokoh untuk menahan tubuh pesawat saat landing.TNI AU punya Flanker lho, tepatnya Su-27/30. Versi 30 untuk latih tempur berkonfigurasi double seat. Walaupun jumlahnya saat ini cuma 4 buah dan ga ada senjata pendukungnya, kehadiran Flanker di udara cukup bikin ketar-ketir tetangga kita, Aussie, sampai-sampai ikut program pembelian sejumlah penempur JSF F-35. Sekedar tambahan, TNI-AU (dulu namanya AURI) pernah menjadi kekuatan udara terbesar di belahan bumi selatan pada saat pembebasan Iria Barat dengan dukungan penuh kekuatan arsenal udara dari Soviet.