Senin, 17 September 2007

Supernova


Supernova dikenal sebagai peristiwa meledaknya sebuah bintang yang sekaligus membawa bintang itu ke akhir hayatnya. Selama ini, ilmuwan mengenal ada dua tipe supernova. Tipe pertama adalah supernova yang dihasilkan oleh ledakan sebuah bintang. Tipe kedua adalah supernova yang terjadi oleh sebab adanya transfer energi yang tidak wajar pada bintang binari atau bintang yang saling berdekatan. Kedua tipe ledakan ini memiliki proses dan dampak yang hampir sama.
Ledakan supernova akan terjadi bila sebuaha bintang mulai kehabisan energi untuk melanjutkan hidupnya. Namun, tidak semua bintang bakal mengakhiri hidupnya lewat ledakan super dahsyat. Umumnya hanya bintang yang memiliki massa sekitar 15 kali massa mataharilah yang memiliki potensi meledak sangat menakjubkan. Ledakan sperti itulah yang dikenal dengan supernova.
Lalu bagaimana mungkin ledakan supernova terjadi?
Bintang bisa hidup oleh sebab reaksi nuklir (fusi atau penggabungan) yang terjadi dalam inti bintang. Reaksi di dalam inti bintang menghasilkan sejumlah energi yang dimanfaatkan untuk menjalankan dan mempertahankan sejumlah sistem penunjang kehidupan bintang, antara lain memepertahankan sistem gravitasi. Prosesnya, energi yang berasal dari hasil reaksi inti bertugas antara lain untuk ‘melawan’ gaya gravitasi.
Ledakan supernova sendiri mulai terjadi bila inti bintang mulai kehabisan unsur radioaktif yang menjadi bahan dasar reaksi nuklir yang menghidupi bintang itu. Sebuah bintang yang tengah dalam proses menuju ledakan supernova biasanya mengalami perubahan fisik, antara lain dimensinya menjadi lebih besar dan berwarna merah pada sisi luarnya. Di sisi dalam terlihat, inti bintang mulai sekarat.
Dalam kondisi itu, temperatur inti menjadi lebih panas daripada kondisi normalnya. Tingkat kerapatannnya pun meningkat. Bersamaan dengan hal itu, di inti bintang mulai berlangsung serangkaian nuklir baru. Namun beberapa saat kemudian, reaksi itu terhenti dan membuat inti mati. Kematian ini disebabkan oleh habisnya isotop radioaktif yang merupakan bahan bakar utama reaksi nuklir. Saat mati itu, bintang diperkirakan hanya mengandung unsur besi (Fe60) dan tidak memiliki unsur lain yang memungkinkan terjadinya reaksi nuklir.
Hal menakjubkan terjadi pasca kematian inti bintang. Kurang dari sedetik sejak kematian intinya, bintang mengalami kehancuran sistem gravitasi oleh sebab lenyapnya energi penopang gravitasi. Proses keruntuhan ini membuat unsur-unsur besi yang tersisa saling bertubrukan dan membuat temperatur inti meningkat. Diperkirakan temperatur inti meningkat hingga lebih dari 100miliar derajat celcius. Runtuhnya sistem gravitasi dan tabrakan antar unsur besi membuat inti bintang terdorong dari pusat bintang. Proses ini dibarengi gelombang ledakan yang maha dahsyat dan membuat material bintang terlempar ke sisi luar bintang dan angkasa lepas.
Ketika terlempar ke sisi luar bintang, sebagian material menjadi panas, dan sebagian lagi bergabung membentuk elemen baru dan isotop radioaktif. Nah, material yang selamat dari ledakan dan terlempar ke angkasa lepas kemudian dikenal dengan residu supernova. Residu ini terdiri dari material panas yang mengandung debu isotop radioaktif, dan elektron bebas. Bila residu yang amat kecil itu bergerak di dalam medan magnetik dan diselimuti neutron, maka gabungan residu supernova itu kemudian membentuk bintang neutron.
Bintang neutron itu bisa terwujud bila bintang yang meledak memiliki massa rendah. Bintang neutron mungkin tak akan terwujud bila bintang meledak memiliki massa 15 kali lebih besar daripada massa matahari. Mengapa? Ledakan bintang yang memiliki massa sebesar itu, selain bakal melenyapkan bintang itu sendiri, juga bakal melenyapkan material dan neutron yang terlempar ke angkasa lepas. Bila hal ini terjadi, maka residu supernova itu bakal membentuk lubang hitam atau black hole.
Proses yang hampir sama terjadi pada tipe ledakan supernova yang kedua, yakni ledakan yang dihasilkan oleh gagalnya sistem bintang binari. Pada sistem bintang binari, supernova bisa terjadi oleh sebab adanya ketidakseimbangan sistem. Misalnya, bila ada salah satu bintang dalam sistem bintang binari tiba-tiba menarik lebih banyak material dari bintang lain ke dalam tubuhnya. Peristiwa ini akan memicu meningkatnya massa bintang penarik itu sehingga mengakibatkan ledakan termonuklir alias supernova itu.

Bumi bisa kiamat
Cukup banyak teori muncul dan berkembang menyangkut keberadaan supernova. Teori ini muncul antara lain untuk menyibak misteri di balik ledakan supernova dan juga mempelajari dampaknya terhadap kehidupan di bumi.
Sejauh ini, peneliti meperkirakan sekarang ini ledakan supernova amat jarang terjadi di dekat bumi.
Tidak sperti halnya pada masa sekitar 10 jutaan tahun silam. Asumsi ini mendorong sejumlah peneliti merekonstruksi keberadaan dan dampak supernova terhadap bumi.
Tanpa bisa memastikan, peneliti memperkirakan hanya supernova berjarak minimal 25 tahun cahaya (237,5 triliun kilometer) dari bumi saja yang bisa melumatkan bumi. Supernova purba diperkirakan meledak pada jarak 130 tahun cahaya dari bumi dan residunya terlempar sampai 150 tahun cahaya, artinya gelombang ledakan itu bisa jadi sampai ke bumi.
Dugaan ini didasari pada kenyataan adanya taburan unsur Fe60 -yang merupakan salah satu residu supernova- di muka bumi dan fakta matinya sejumlah plankton, moluska, dan organ laut peka ultraviolet.
Mungkin dugaan itu benar adanya. Dampak supernova pernah sampai ke bumi, namun belum sempat membuat bumi kiamat oleh karena jarak antara bumi dan pusat ledakan cukup jauh sehingga bumi tidak terkena dampak langsung ledakan.
Namun para peneliti memperkirakan, meski berada pada jarak yang amat jauh dari bumi, supernova masih berpotensi besar melumatkan bumi. Selain menghasilkan gelombang ledakan yang dahsyat, supernova juga menghasilkan sinar ultraviolet berintensitas tinggi. Nah, bila sinar ini sampai ke atmosfir bumi, ia akan memakan lapisan ozon yang bertugas menyaring sinar ultraviolet yang masuk ke permukaan bumi. Setelah lapisan ozon habis, sinar ultraviolet yang lain pun akan langsung masuk ke muka bumi, dan ‘memakan habis’ organ hidup peka ultraviolet, sekaligus membuat bumi kiamat secara perlahan.

Angkasa no5 Februari2003 thXIII

Tidak ada komentar: